Selasar adalah penyebutan lain untuk serambi atau beranda. Itulah area terbuka atau setengah terbuka di bagian depan atau sisi bangunan. Lalu, untuk apa biasanya selasar itu? Beragam. Ada yang memanfaatkannya untuk menerima tamu, bercengkrama bersama keluarga ketika sore hari dengan secangkir kopi atau teh manis dan pisang goreng, atau sekadar membaca koran sore (ups...ini nampaknya sudah gak ada, ya? ha ha ha). Gantinya, baca buku atau scroll medsos sambil senyum-senyum sendiri. Yang jelas, selasar dapat menjadi ruang intim dan hangat untuk sebuah keluarga dengan pembicaraan ringan dan melibatkan semua.
Lalu, apa yang terbayang di benak Anda tentang selasar sebuah masjid? Yup, beragam aktivitas dapat berlangsung di situ, termasuk menyelenggarakan majelis kopi, rapat kepanitiaan, atau menggelar sejumlah makanan untuk ifthor jama'i ketika Ramadhan. Kalau selasar masjid dekat rumah Anda biasanya untuk apa?Metamorfosis
Ruang
Ruang itu tetap dan tidak berubah. Manusia dan
aktivitasnyalah yang memberi makna pada ruang-ruang itu. Manusia meruang dan
meninggalkan jejak: karya, percakapan, diskusi, program kerja, atau sekadar
tertawa bersama dengan atau tanpa seruput kopi hitam tanpa gula. Akhirnya, ada
sebentuk kenyamanan muncul dalam hati ketika kita menempati ruang-ruang
tertentu, termasuk selasar kiri itu. Mari kita tengok selasar itu.
Ini cerita tentang selasar kiri atau selatan masjid
Al-Ikhlash Depok Maharaja. Ini selasar favorit. Selasar ini memang lebih lebar
dibandingkan dengan selasar kanan; Diberi atap dan dekat dengan dapur. Nah,
akses ke dapur inilah yang pada gilirannya melahirkan Majelis Kopi—pada
perkembangan selanjutnya bukan hanya ngopi karena ternyata setiap Sabtu pagi
ba'da Subuh selasar ini menjadi tempat sarapan bersama dengan berbagai macam
menu dan obrolan, tentunya. Bahkan pada saat kajian ba'da Subuh—Sabtu ketiga
dan Ahad—selasar ini juga menjadi tempat favorit untuk mereka yang ingin
menyimak kajian dengan suasana berbeda: bisa langsung selonjor, bisa langsung
merem lagi tanpa terlihat ustadz pemateri, atau sambil scroll medsos,
dan tanpa ac.
Kini, fungsi selasar itu bertambah: tempat kumpul
jamaah masjid berbincang-bincang tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
aspek tauhid (akidah), ibadah, dan akhlak. Obrolan dalam Majelis Kopi yang
selama ini begitu beragam dan dari berbagai sudut pandang kini menemukan koridor
dan cantelan khasanah keilmuan Islamnya. Majelis Selasar menjadi daya tarik
baru Masjid Al-Ikhlash di ba’da Maghrib.
Mengapa Majelis Selasar menarik? Pertama,
waktunya tidak didesain khusus, tetapi menggunakan slot waktu yang memang biasa
digunakan para pengurus DKM dan jamaah berkumpul selepas maghrib. Mereka yang
hadir dan menghidupinya adalah mereka yang terbiasa kumpul di selasar itu.
Jadi, majelis ini tidak menciptakan ruang baru, tetapi memberi nilai tambah dan
pemaknaan baru atas rutinitas yang sudah terbentuk lama. Dengan demikian,
majelis ini tidak mengubah dan menggeser apa yang sudah menjadi keseharian para
pengurus dan jamaah.
Yang rutin dilakukan ketika kumpul-kumpul sambil
bercengkrama itu adalah menyeduh kopi, meskipun tidak lagi kopi giling
(langsung) tetapi bukan kopi gunting (sachet). Di kesempatan itulah biasanya
Ustadz Muhsinin Fauzi hadir untuk bersama-sama menyeruput kopi hitam tanpa gula
sambil ngobrol tentang sejumlah hal, baik yang sedang hit, keseharian, dan yang
lawas. Dari suasana dan semangat majelis kopilah sejatinya majelis ini lahir.
Kedua,
gaya, suasana, dan bahasan majelis ini unik dan berbeda dengan kajian yang
biasa diselenggarakan Sabtu dan Ahad ba'da Subuh. Format Kajian Sabtu dan Ahad
seperti pengajian pada umumnya: dibuka oleh mc atau moderator, ustadz
memaparkan materi, tanya jawab, kemudian ditutup. Tema kajian sudah ditentukan
karena biasanya melanjutkan bahasan bulan lalu dengan sumber yang juga sudah
definitif. Dengan demikian, suasana yang terbangun sangat terasa formal (dan
ilmiah). Apalagi sejak beberapa tahun terakhir, kajian di Al-Ikhlash disiarkan
langsung lewat streaming youtube. Hal ini sangat mempengaruhi cara
jamaah menyimak paparan dan bertanya.
Kesempatan bertanya selalu ada, tetapi tidak banyak jamaah
yang mau memanfaatkannya. Padahal, itulah kesempatan untuk menggali lebih
banyak ilmu dan hikmah dari para guru dan ustadz kita. Sejatinya, memang banyak
faktor yang menyebabkan orang tidak memanfaatkan kesempatan tersebut. Bertanya merupakan
salah satu ekspresi keterampilan berbahasa, yaitu berbicara. Mari kita
ingat-ingat, pada sejumlah kondisi, menjawab ternyata masih lebih mudah
daripada bertanya.
Ketika kita bertanya, kita harus mengonstruksi kalimat
dan ujaran—simbol-simbol bahasa—berdasarkan pengetahuan, pemahaman, dan
keterampilan berbahasa yang kita miliki. Artinya, “dunia” yang ditawarkan ustadz
yang memberikan kajian, bertemu dengan “dunia” kita yang mendengarkan
(menyimak). Bukankah kita tidak dalam kondisi “kosongan” ketika mendengarkan kajian
tersebut? Di samping itu, keterampilan dan kualitas menyimak kita juga menentukan
sejauh mana kita memahami materi yang disampaikan.
Ketiga,
egaliter, cair, dan akrab. Format dialog yang diusung majelis ini memungkinkan
siapa saja untuk bisa terlibat aktif. Dengan duduk melingkar memungkinkan kita
merasa tidak berjarak dengan Ustadz Muhsinin sebagai narasumber. Format ngobrol
dan suasana yang dibangun bersama sambil ngopi dan sesekali sambil
menikmati kudapan dan penganan yang mengundang selera menjadikan majelis ini sangat
homey dan nyaman untuk siapa saja. Yang ingin mengajukan pertanyaan tidak perlu
menimbang-nimbang diksi karena itu layaknya kita kongkow dengan teman-teman.
Siapa saja boleh menanggapi dan memberi masukan asalkan masih dalam koridor
pembahasan.
Topiknya bebas. Sangat beragam: sikap iblis terhadap
neraka, dunia jin, ilmu waris, doa buruk, bahasa Al-Qur’an dan Hadits,
perbedaan ilmu dan adab, pelajaran dari Nabi Musa dan Harun, dan lain
sebagainya. Sumbernya juga bisa dari mana saja, bisa sangat personal maupun
komunal: obrolan di rumah, tayangan medsos, atau berita terbaru. Suasana Majelis
Kopi yang cair dan akrab sangat kentara di Majelis Selasar. Arus pembicaraan
bisa seliweran dengan tempo yang sangat dinamis, kadang cepat karena tidak
butuh pembahasan mendalam dan lanjut, tetapi kadang bisa sangat lambat dan
intens karena membutuhkan penjelasan dan pemahaman yang kuat, bahkan ada
topik-topik tertentu yang bersambung di edisi selanjutnya karena diskusi
serunya belum selesai dan terbatasnya waktu yang tersedia. Kopi diseruput,
penganan dicicipi, dan topik bahasan didiskusikan dalam suasana riang-gembira,
bahkan tak jarang diselingi gelak tawa di antara yang hadir.
Ruang
Belajar Alternatif
Ruang belajar masyarakat hari ini sangat beragam:
yang masih ingin menikmati indahnya taman surga, mereka bisa menghadiri majelis
ta’lim yang banyak diadakan di sejumlah masjid; Yang ingin kajian bersama
keluarga, mereka bisa memanggil ustadz untuk mengajarkan keluarga mereka secara
privat; Dan yang ingin praktis—tidak harus ke masjid dan tidak harus bayar
ustadz—mereka cukup belajar agama lewat Youtube, Tiktok, Facebook, Instagram, X,
atau Threads. Pola belajar yang terakhir ini sangat tidak terbatas. Inilah
samudera. Kajian tentang apa saja dan dari siapa saja ada. Tinggal pilih. Tidak
selera, tinggal scroll pindah saluran. Tetapi, justru inilah yang
berbahaya dan membahayakan.
Lalu, apa relasi antara fenomena di atas dengan
keberadaan Majelis Selasar? Setidaknya, inilah beberapa catatan. Pertama,
suasana private dan customize. Inilah gaya dan suasana belajar
yang sangat serius tetapi juga sangat menyenangkan dan menenangkan. Betapa
tidak! Para jamaah bisa mengajukan pertanyaan kepada Ustadz Muhsinin,
mendiskusikannya, menambahkan informasi, bahkan juga memberikan perspektif yang
agak berbeda sambil menyeruput koptagul dan mencicipi pisang goreng, kolak labu
parang-ubi-pisang tanduk, uli bakar, atau ongol-ongol sagu aren dengan parutan
kelapa.
Yang duduk di kanan kiri atau di depan belakang kita bukan
orang lain. Mereka adalah tetangga kita sendiri, sahabat, dan jamaah masjid
yang setiap sholat wajib biasanya bertemu. Jadi, tidak ada rasa sungkan atau
malu ketika mengajukan pertanyaan atau sekadar menanggapi topik pembicaraan.
Kita pun menerima informasi dan penjelasan ustadz dalam suasana hati yang
nyaman dan tenang karena suasananya sangat familiar dengan kita.
Kedua,
fenomena belajar atau mengaji tanpa guru dan ustadz itu sangat berbahaya. Mengapa?
Karena kita tidak dibekali dengan dasar-dasar ilmu yang memadai untuk memahami
berbagai pendapat dan informasi dari berbagai ustadz di media sosial. Konteks dan
batasan pembahasan serta berbagai diskusi seputar topik tersebut tidak kita
kuasai. Akhirnya dikhawatirkan kita jadi keblinger, sok tahu, dan lebih parah
lagi sudah berani melabel orang dan kelompok lain yang berpendapat atau
mempraktikkan sesuatu yang berbeda dengannya. Nah, Majelis Selasar ingin
memutus mata rantai kejumudan tersebut.
Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan sejumlah
jamaah memang langsung menanyakan berbagai temuan atas tayangan di media sosial
yang membingungkan mereka. Ustadz Muhsinin kemudian mencoba meletakkan dengan
benar dan bijak apa-apa yang menjadi dasar pembahasan yang biasanya tayang sangat
singkat dan sekelumit itu di medsos. Memahami konteks pembicaraan apa yang disampaikan
sejumlah narasumber di medsos menjadi sangat penting. Majelis Selasar memungkinkan
kita mendapatkan penjelasan yang memadai sesuai dengan tingkat pengetahuan dan
pemahaman kita.
Ketiga, menjajaki pola baru
relasi antara ustadz dan jamaah. Pola relasi antara ulama dan umat menjadi
salah satu poin penting dalam konteks ini. Setiap detik, jamaah dikepung ribuan
tayangan dan informasi dengan berbagai tingkat kebenaran dan akurasinya di
medsos: ada yang provokatif, ada yang skeptis. Ketika semangat beragama tidak
dilandasi pengetahuan dan pemahaman yang mendasar dan lurus, bukan mustahil
akan terjadi banyak friksi yang cukup tajam dan mengkhawatirkan di masyarakat.
Ketika para ulama dan ustadz hanya mau muncul di forum-forum kajian resmi dan
tabligh akbar, maka umat akan tergulung semangat seremonial beragama tanpa dasar
iman, syariat, dan akhlak yang dapat dipertanggungjawabkan. Inilah yang kita
khawatirkan terjadi hari ini.
Alhamdulillah, jamaah Masjid Al-Ikhlash Depok
Maharaja mendapatkan rezeki dan keberkahan dalam hal ini. Dua pembina DKM—Ustadz
Muhsinin Fauzi dan Ustadz Hartanto Saryono—turun langsung mendidik dan membersamai
jamaah sesuai dengan kapasitas keilmuan masing-masing. Meskipun sudah punya
jadwal kajian tetap setiap Pekan Pertama dan Keempat, beliau berdua masih turun
gunung melalui Majelis Selasar dan Gerakan Maharaja Ngaji Al-Qurán (Gemar).
Kedua sarana belajar kini kian terasa sangat dibutuhkan mengingat sebagian
besar jamaah Masjid Al-Ikhlash—para Baby
Boomer akhir dan Gen-X—sudah memasuki usia pensiun. Mereka yang beberapa tahun
lalu masih sibuk berkarier, kini sudah lebih banyak di rumah. Nah, di saat
itulah keberadaan wadah belajar seperti Majelis Selasar dan Gemar semakin
menemukan makna kehadirannya.
Inilah sekadar catatan tentang Majelis Selasar dan
aktivitas belajar jamaah Masjid Al-Ikhlash Depok Maharaja. Sebagai denyut
jantung dan nadi dakwah Islamiyah di lingkungan RW 12 Rangkepan Jaya, semoga
masjid semakin makmur dengan berbagai aktivitas, baik ibadah maupun muamalah. Semoga
kerendahan hati para ustadz dan besarnya semangat belajar ilmu agama jamaah masjid
menjadi keberkahan untuk kita semua. Bukankah selama ini kita telah berjuang
bersama-sama mewujudkan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa rabbun
ghafur di lingkungan kita? Semoga Allah ridho dengan segala aktivitas
ibadah dan dakwah kita selama ini. Aamiin Allahumma Aamiin.
Wallahu a'lam
bishawab
Depok, Oktober 2026
