Cintaku Jauh di Pondok

             “Saya bilang sama abinya anak-anak, Pak Rizal…Ya Allah, Abi, jauh banget kita sekolahin anak kita, Bi. Sepanjang perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta ke Subang saya terus mengusap air mata.  Perasaan saya, perjalanan itu jauh banget, tidak sampai-sampai, bahkan sampai semua persendian terasa sakit semua karena perjalanan itu.”

Begitu cerita seorang sahabat di Tarakan, Kalimantan Utara, 11 tahun yang lalu ketika kami bertemu di Pantai Amal sambil menikmati segarnya air kelapa muda dan penganan khas daerah. Keduanya praktisi pendidikan di Tarakan. Dijamu dan berbincang bersama beliau berdua sungguh sebuah berkah luar biasa. Kami saling bertukar cerita tentang anak kami yang memang sekamar di pondok. Sementara itu, perlahan matahari tenggelam di telan samudera. Dan malam pun tiba.

Ya, mereka adalah salah satu keluarga yang memutuskan untuk menyekolahkan anak ke sebuah sekolah yang jauh dari tempat tinggal mereka. Mereka satu dari ribuan keluarga kelas menengah yang dalam 20 tahun terakhir memang lebih memilih boarding school daripada sekolah biasa. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka di lokasi yang jauh dari tempat tinggal mereka. Bukan saja beda kota, tetapi juga beda pulau. Uniknya, mereka tidak pernah survey sebelumnya ke sana. Berbekal rekomendasi dari keluarga kakak kelas putrinya dan melihat profil sekolah di website, mereka yakin untuk memasukkan putri kedua mereka ke sekolah tersebut.

Fenomana boarding school memang unik. Mereka yang hadir sebagai murid tidak hanya berasal dari kota yang sama, tetapi dari tempat yang berjarak puluhan bahkan ratusan kilometer dari sekolah. Semangat menyekolahkan anak di boarding school menjadi satu gelombang perubahan dan ghirah keislaman yang luar biasa. Partisipasi kelas menengah Islam dalam hal ini menjadi catatan sangat penting dalam perkembangan sekolah berasrama.

Wujud Kasih Sayang

Gelombang keberpihakan kelas menengah perkotaan terhadap pendidikan berasrama (boarding school) nampaknya tidak main-main. Animo itu tidak hanya menggejala dengan sangat masifnya di Jawa, tetapi juga di sejumlah wilayah di Indonesia. Mereka ikhlas terbang lebih jauh untuk mendatangi sejumlah boarding school, mencari informasi, mengunjungi calon sekolah, mendaftar, dan mengikuti tes masuk. Sementara itu, ada pula yang tidak sempat survey ke lokasi, seperti cerita kawan di atas. Mereka memerlukan satu keyakinan yang melegakan dan menenangkan, bahwa sekolah yang mereka pilih adalah sekolah dengan tingkat kepercayaan yang tinggi di antara para orang tua murid.

Berburu pendidikan berkualitas telah menjadi gaya hidup. Jarak dan biaya menjadi relatif. Untuk sebagian orang memberikan pendidikan yang baik di lingkungan yang juga baik merupakan kepuasan tersendiri. Berpisah sementara waktu dengan buah hati mereka tercinta memang menjadi harga termahal yang harus mereka bayar. Semua diupayakan agar sang buah hati mendapatkan pelajaran hidup berupa kemandirian, terbiasa hidup dalam keragaman, bertemu dengan teman dan suasana baru, serta terbiasa belajar mengambil sejumlah keputusan dalam berbagai kesempatan.

Ada sejumlah catatan menarik seputar fenomena ini. Pertama, sejatinya, para orang tua sadar bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan tauhid yang lurus. Aqidah sang buah hati harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Untuk itulah mereka menyengajakan diri untuk berburu informasi tentang sekolah boarding yang terbaik. Sebagian dari mereka adalah pasangan suami istri yang sibuk bekerja sebagai fenomena lumrah kota besar. Mereka menyadari keterbatasan waktu dan ilmu dalam hal mendidik buah hati mereka. Mereka tidak ingin kesibukan menjadi kambing hitam. Oleh karena itu, mereka ingin agar putra-putri mereka tetap mendapatkan pendidikan agama di lingkungan terbaik. Untuk itu, mereka rela berpisah sementara waktu dengan buah cinta mereka.

Kedua, fenomena pergaulan hari ini telah membuat miris sebagian besar orang tua. Angka kenakalan remaja yang terekspos media mainstream dan sosial dalam pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, judi online, tawuran, LGBT, dan berbagai tindak kriminalitas lainnya diyakini hanya puncak gunung es. Kekhawatiran itu terus memuncak setelah serbuan berbagai game online dan media sosial via internet terus merontokkan sendi-sendi kehangatan keluarga. Kegelisahan akan merosotnya mutu pendidikan, sosial, dan kesehatan mental sangat mengganggu orang tua. Sementara mereka tidak mungkin meninggalkan kesibukan dalam bekerja. Oleh karena itu, mereka memerlukan partner terbaik dalam mendidik putra-putri mereka. Pilihan itu jatuh pada boarding school, yang memungkinkan putra-putri mereka dibimbing secara konprehensif, baik di sekolah maupun di asrama bersama teman-teman seumur dari berbagai daerah. 

Ketiga, teman, circle, dan network terbaik. Salah satu kewajiban sebagai orang tua adalah mengupayakan lingkungan terbaik untuk tumbuh kembang anak. Mengapa? Lingkungan sangat besar pengaruhnya untuk perkembangan tauhid, sosial, kemandirian, dan sejumlah sikap lainnya. Untuk itu, mereka memilih sekolah yang menurut mereka mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Salah seorang  murid pernah menyampaikan di hadapan manajemen sebuah sekolah, bahwa ia Ikhlas membayar lebih mahal untuk pendidikan anak karena berharap anaknya akan mendapatkan circle yang sepadan. Hal itu, menurut beliau, penting untuk network dan bekal sosial putranya di kemudian hari.

Dengan demikian, dapat kita pahami, bahwa ada harapan besar di balik keputusan orang tua menyekolahkan anak mereka di sebuah boarding school. Bukan saja agar putra-putri mereka terbiasa berinteraksi dengan Al-Qurán dan mendapatkan program pendidikan berbasis adab yang baik, tetapi juga mendapatkan pertemanan yang baik dan sepadan pula.

Menunaikan Amanah

Apa yang diinginkan orang tua wali murid harus dijawab oleh pihak sekolah. Amanah itu adalah kepercayaan. Kepercayaan adalah sebuah kehormatan. Kehormatan harus dibalas dengan kehormatan pula. Dengan apa?

Pertama, layanan cinta. Ini lebih dari sekadar komitmen atas apa yang sudah dijanjikan lewat brosur dan media marketing yang lain. Sekolah yang memajang foto gedung, fasilitas, dan aktivitas ekstrakurikuler yang ternyata tidak pernah ada dan tidak nyata sejatinya tengah menggali kuburnya sendiri. Pertemuan pertama harus penuh dengan kejujuran dan cinta, bukan menutupi apa yang sudah terlanjur terekspos lewat kebohongan media.

Orang tua wali murid mengantarkan buah hatinya dengan antusias dan penuh harap ke sebuah sekolah yang penuh ketenangan, keterbukaan, dan kenyamanan. Senyum dan sambutan sederhana tetapi tulus dari civitas akademika di asrama lebih bermakna dan berterima daripada serenomial resmi tetapi artifisial dan kering. Ketulusan akan bertemu kebeningan; Yang bersumber dari hati akan diterima dengan ikhlas di hati pula. Itulah awal mula layanan cinta, sebuah layanan sepenuh hati—sebagaimana diiklankan dan dijanjikan—sejak seorang anak diantar datang sampai dijemput pulang kembali oleh orang tua mereka. Layanan cinta bukan lip service, tetapi sistem terpadu yang menggerakkan semua elemen pembelajaran dan pembinaan, baik di sekolah maupun di asrama untuk memberikan yang terbaik kepada setiap murid sehingga ia dapat terbentuk sesuai dengan target kurikulum yang diterapkan.  

Oleh karena itu, pondok harus memastikan bahwa apa yang dijanjikan kepada para santri pada saat PPDB benar-benar ada dan terwujud? Agar apa? Agar para orang tua merasa aman dan nyaman. Pondok yang gagal memenuhi janji dan ekspektasi para orang tua pasti akan dapat rapor merah. Itulah berita yang sangat tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan untuk nama baik pondok di kemudian hari.

Fasilitas adalah sesuatu, tetapi rasa aman dan nyaman adalah sesuatu yang lain. Fasilitas tidak harus mewah untuk merasakan keduanya, karena kemewahan tidak bisa membeli dua rasa itu. Tetapi, betulkah kondisinya harus baik, terawat, dan lengkap? Nampaknya sejumlah besar orang tua akan memasukkan ini sebagai kriteria ketika memilih pondok. Faktanya, tidak semua orang tua yang menyekolahkan anaknya di pondok adalah mereka yang pernah mondok. Jadi, mungkin mereka sangat ingin memastikan, apakah anak mereka merasa aman dan nyaman di pondok.

Lalu, apakah program yang bagus dan beragam bisa menggantikan kelengkapan sarana? Orang tua pasti memilih pondok yang programnya bagus dan lengkap sarananya. Jadi, tidak bijak juga bersembunyi dari ketiadaan salah satunya. Program yang bagus itu ibarat software, dan sarana yang lengkap itu hardware. Program bagus itu berhubungan dengan ketercapaian kurikulum, prestasi akademik, keluhuran budi dan karakter, akidah, dah akhlak. Sedangkan sarana berhubungan dengan rasa aman dan nyaman yang lain: semua aktivitas membutuhkan sarana.

Kelengkapan sarana sebaiknya tidak perlu dipertentangkan dengan bagusnya program. Itu tidak bijak. Karena sejatinya, kedua hal itu adalah dua sisi koin yang saling membentuk keutuhan layanan pondok. Dengan keduanyalah pondok melakukan proses dan mewujudkan visi misi yang dijanjikan kepada para calon orang tua murid.

Kedua, relasi setara. Sekolah dan orang tua ada pada relasi yang equal, saderajat dan sama penting. Sekolah bukan subordinat. Bila ada sekolah yang kebijakannya sangat dipengaruhi oleh seseorang atau sekelompok orang menandakan sekolah itu belum merdeka. Biar pun orang itu banyak menyumbang sekolah dengan sejumlah fasilitas atau masih keluarga pemilik, ia tidak bisa seenaknya mengatur manajemen sekolah. Sekolah adalah lembaga akademik yang independent dan menjunjung tinggi asas kesetaraan. Jadi perilaku sok ngatur dan berusaha mempengaruhi kebijakan sekolah, dalam pemilihan ketua OSIS, misalnya, itu sangat tidak relevan dan kampungan. Lebih kampungan lagi kalau ternyata pihak sekolah merasa nyaman diatur karena yang bersangkutan merupakan orang terkenal, pejabat publik, atau masih keluarga pemilik.

Sejumlah sekolah bahkan sudah tidak menggunakan diksi “menitipkan” anak. Mereka ingin bersama orang tua menyelenggarakan pendidikan. Jadi, sama-sama bertanggung jawab penuh. Orang tua tidak lepas tangan setelah mengantarkan anak mereka ke pondok dan pihak pondok pun tidak merasa mentang-mentang sudah diserahi lalu bisa seenaknya memperlakukan muridnya. Dengan kesedaran tersebut, maka setiap pencapaian dan prestasi adalah keberhasilan bersama, demikian pula sebaliknya. Kemitraan seperti ini hanya mungkin dicapai dan disepakati bila ekosistem pendidikan pondok telah mampu mengikutsertakan orang tua wali secara sistemik dalam semua gerak pendidikan yang berlangsung.

Ketiga, murid adalah kader dakwah dan anak ideologis yang sesungguhnya. Bila sebuah pondok memiliki konsep kaderisasi dakwah yang ajeg, maka mereka tidak akan sembarangan memperlakukan murid mereka. Mereka sadar bahwa mereka sedang menggembleng dan menyiapkan setiap murid menjadi kader dakwah pondok. Dengan demikian, kurikulum yang diterapkan sejak sang murid diantarkan orang tuanya sampai mereka lulus adalah satu rangkaian program kaderisasi yang sistematis, terstruktur, dan terukur. Tidak ada program dadakan dan improvisasi berlebihan di tengah jalan karena persiapan, proses, dan hasil haruslah satu kesatuan yang utuh. Pondok sebagai lembaga dakwah pasti mengerti, bahwa menyiapkan kader bukan pekerjaan mudah dan instan. Oleh karena itu, program yang terencana dengan baik dan terlaksana dengan tertib disertai keteladanan yang tidak putus sepanjang mereka ada di pondok insya Allah akan menjadi pola kaderisasi yang baik. Inilah mengapa tidak banyak pondok yang berhasil karena belum memiliki pola kaderisasi yang jelas, terukur, dan terstruktur.

Akhirnya, kita sadari, bahwa menyekolahkan anak di pondok (boarding school) adalah sebuah keputusan yang terukur. Keputusan ini memang membutuhkan keberanian dan keikhlasan untuk memulainya, terutama untuk para calon orang tua murid yang tidak pernah punya pengalaman mondok. Keikhlasan berpisah dengan sang buah hati harus diapresiasi dengan layanan terbaik dari pondok. Apa yang sudah dijanjikan melalui PPDB itulah yang minimum mereka berikan. Dengan demikian, kerinduan karena jarak fisik menjadi sesuatu yang relatif manakala mereka sudah merasa aman dan nyaman serta percaya bahwa keputusan tersebut tepat untuk buah hati mereka.

Wallahu a'lam bishawab

Depok, Maret 2026

 

 

 

 

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form