Masa kecil yang indah adalah tumbuh bersama di masjid. Anak yang bahagia adalah yang diterima apa adanya dan beraktivitas dengan gembira bersama teman-teman sebaya di masjid. Apalagi saat Ramadhan. Inilah waktu istimewa untuk mereka. Sebagian besar waktu mereka habis di masjid.
Buat mereka yang mondok, juga tak kalah menarik.
Umumnya, di pertengahan Ramadhan mereka pulang. Tempat yang pasti mereka
kunjungi adalah masjid. Kehadiran mereka sangat kentara: gamis, postur tubuh,
dan gaya yang sudah berbeda dengan sebelum mondok. Sesekali
beberapa orang di antara mereka mendapat kesempatan “manggung” dengan menjadi
imam sholat berjamaah, apakah itu sholat Maghrib, Isya, maupun Subuh. Para Baby
Boomers dan Gen-X yang menjadi kakek dan ayah mereka bisa tersenyum bangga
mendapati cucu dan anak mereka sudah bisa tampil sebagai imam sholat dengan
bacaan yang tartil dan “dapat dinikmati”. Masya Allah.
Mari kita diskusi sejenak tentang Si Alpha yang hari
ini di bangku SD. Mengapa keberadaan mereka selama Ramadhan di
masjid menjadi menarik dan unik? Apa yang bisa kita kontribusikan agar
pengalaman personal dan komunal mereka dapat menjadi bekal bermakna? Bagaimana
sebaiknya para Gen-X yang hari ini menjadi pengurus DKM mempersiapkan mindset dan
perilaku yang tepat agar mampu memfasilitasi mereka untuk tumbuh menjadi
anak-anak yang kuat keterikatannya dengan masjid?
Gen-Z, Alpha, dan Masjid
Gen-Alpha (lahir antara 2010-2024) adalah anak
kandung dunia digital. Sejatinya, mereka lebih digital minded
dibandingkan kakaknya, Gen-Z. Merekalah generasi pertama yang lahir sepenuhnya
di abad ke-21. Sejak lahir, mereka mendapati dunia yang dijalankan serba dan
berlogika digital. Dari pemahaman ini saja kita sudah maklum, bahwa mustahil
memisahkan mereka dari perangkat digital, bahkan sebagian besar aktivitas
belajar mereka wajib ber-gadget.
Ada beberapa catatan menarik tentang keberadaan mereka
di masjid, apalagi ketika Ramadhan. Pertama, relasi
antargenerasi. Masjid yang makmur bukan hanya sekadar tempat sholat, tetapi
juga tempat pembinaan mental-spiritual, pengembangan ekonomi kerakyatan dan
kebudayaan, pusat pelayanan sosial dan kesehatan, serta pendidikan.
Singkatnya, masjid harus mampu berfungsi sebagai pusat peradaban yang
senantiasa menginspirasi. Oleh karena itu, masjid harus menjadi tempat yang
menenangkan, menentramkan, dan menyenangkan untuk selalu dikunjungi.
Sebagai pusat kegiatan masyarakat, maka sejak awal semua
pihak harus menyadari, akan ada komunikasi, kontribusi, dan
kolaborasi antargender, antarkelompok, dan antargenerasi. Gen-Z dan Alpha
adalah bagian dari relasi antargenerasi tersebut. Kesadaran itu akan melahirkan
sikap mental dalam menghadapi keunikan dua generasi tersebut. Keberadaan mereka
sejatinya harus dimaknai sebagai sebuah keberkahan bukan beban dan gangguan. Keberadaan
mereka dengan segala tingkah polanya adalah kekayaan sebuah komunitas.
Keberjamaahan kita belum lengkap tanpa kehadiran mereka. Oleh karena itu, mindset
pertama yang harus kita miliki adalah mereka sebuah keniscayaan. Jadi,
terimalah dengan hati terbuka dan dada yang lapang.
Kedua, modal pertama adalah kenyamanan. Sebagai anak kandung dunia digital, Gen Alpha adalah generasi visual. Mereka melihat dan merasa. Itu artinya mereka butuh keteladanan, bukan sekadar perintah. Apalagi hanya hardikan atau sabetan gulungan sajadah semata. Sejatinya, selama ini masjid belum menawarkan kenyamanan (visual) untuk mereka. Sebagian besar Gen-X yang hari ini hadir di masjid belum semuanya memahami hal ini. Mereka bukan Gen-X 45 tahun yang lalu. Jadi, pendekatan yang pernah kita terima sebagai anak seusia mereka dulu tidak signifikan lagi digunakan.
Coba tengok program yang didesain oleh pengurus DKM selama ini.
Adakah yang ditujukan untuk mereka (Gen-Z dan Alpha)? Faktanya, memang belum ada (untuk tidak
menyebutnya tidak ada sama sekali). Inilah egoisme generasi. Mungkin bukan
karena tidak mau, tetapi boleh jadi DKM memang belum tahu bagaimana caranya agar
Gen-Z dan Alpha memiliki ruang ekspresi dan rasa nyaman berada di masjid.
Selama ini, banyak masjid cenderung menjadi “masjid orang tua”
karena semua agenda ditujukan untuk konsumsi Baby Boomers, Gen-X, dan Millenial
(selanjutnya di sebut Para Senior). Mereka lupa, ada amanah berupa kaderisasi dakwah
kepada Gen-Z dan Alpha dalam derajat dan intensitas yang proporsional. Apa
jadinya bila “para senior” hanya asyik dengan diri mereka sendiri dan percaya
pada asumsi bahwa Gen-Z memang tidak tertarik ke masjid dan Gen Alpha hanya
bikin berisik di masjid? Sementara, waktu terus menggerus usia, tenaga, dan kesempatan. Masjid akan kehilangan fungsi pembinaan karakter untuk
generasi mudanya. Betul memang, kita tidak perlu overthinking. Sebagai rumah Allah, masjid pasti tidak akan kehilangan
pengurus, tetapi amanah memberikan pembekalan yang maksimal kepada Gen-Z dan
Alpha agar siap untuk menggantikan para senior yang sudah berguguran di makan usia juga tidak bisa dinegasikan begitu saja.
Ketiga, pentingnya komunikasi, kontribusi, dan kolaborasi. Inilah keterampilan
wajib Abad ke-21. Oleh karena itu, para senior yang diberi amanah sebagai
pengurus DKM harus openmind terhadap kebutuhan dua generasi terakhir. Ini
tantangan di depan mata. Kita tidak bisa terus-menerus menyerahkan amanah
kaderisasi dakwah ini pada mekanisme pasar. Kita harus menyempurnakan sebab. Kita harus ambil peran. Harus
ada sesuatu yang kita rancang dengan saksama agenda apa yang menarik untuk dua
generasi terakhir kita hari ini. Kalau perlu, kita bisa menggelar focus groups discussion dengan sejumlah pendidik, praktisi,
dan orang tua di lingkungan kita untuk bersama-sama merumuskan program terbaik
untuk mereka.
Gen-Z dan Alpha bukan subordinat. Mereka juga subjek
dan aktor utama. Mereka tidak butuh sekadar dianggap ada, tetapi juga harus diterima
dengan sepenuh hati. Jangan karena ingin masjid rapih, bersih, dan tenang,
mereka dibuat tidak nyaman dengan perlakuan yang tidak lagi cocok untuk mereka.
Pendekatan untuk mendisiplinkan dan menertibkan mereka tidak bisa sama lagi
dengan ketika Baby Boomers mendidik anak mereka yang Gen-X. Pelototan
mata dan sabetan sajadah diiringi hardikan dan perkataan sinis tidak lagi cocok untuk
mereka. Pendekatan harus diubah sebagaimana tumbuhnya kesadaran bahwa segalanya
memang sudah berubah.
Kita tidak boleh berhenti pada asumsi dan hipotesis.
Gen-Z dan Alpha juga sangat perlu diajak berproses dalam berbagai kegiatan di
masjid, seberapa pun sederhananya. Memang, diperlukan kesabaran dan kepercayaan
serta keterlibatan semua pihak agar tercapai win-win-win solution: masjid
menang, orang tua tenang, mereka senang. Nah, sampai dititik inilah ketangguhan
komunikasi, kontribusi, dan kolaborasi sebagai sebuah jamaah diuji. Keberjamaahan kita ditantang. Kali ini bukan
lagi dengan program infrastruktur (membangun menara atau pemasangan AC), tetapi
dalam sesuatu yang tangible dan visioner, yaitu proyek suprastruktur. Apa itu? Menyiapkan
Gen-Z dan Alpha yang cinta masjid dan siap memakmurkan masjid pada gilirannya
nanti. Bukankah yang milenial hari ini dulu juga adalah bocah yang pada
waktunya? Jadi, mari kita lihat dua generasi terakhir hari ini 15 tahun lagi.
Berbiak di Ramadhan
Untungnya ada Ramadhan. Ini berkah Ramadhan. Gen-Z dan
Alpha antusias mewarnai suasana masjid sebulan penuh. Untuk itu, mari kita
lihat catatan itu. Pertama, pentignya sebuah kepanitiaan. Mari kita cermati DKM Al-Ikhlash Depok Maharaja dengan Festival Ramadhannya. Tiga tahun lalu kepanitiaannya bernama Kampung Ramadhan yang kemudian bermetamorfosis menjadi Ramadhan
Festival. Di kepanitiaan tahunan ini, mereka pernah mengadakan “Ramadhan
Ceria” untuk anak dan remaja. Aktivitasnya berupa wide game, lomba mewarnai, membuat kaos jumputan, dinamika kelompok, cooking class, dan sejumlah lomba (adzan,
hafalan surat pendek, dan story telling). Gen-Z dan Alpha sangat antusias mengikutinya. Mereka senang.
Meriah. Masjid pun semarak oleh tawa, canda, dan keceriaan mereka.
Kedua, i’tikaf 10 malam terakhir. Inilah salah satu daya
tarik Ramadhan untuk Si Alpha. Mereka sangat antusias untuk “pindah tidur” sepuluh
malam terakhir di masjid. Mereka membawa bantal, guling, selimut, dan alas
tidur. Warna-warni. Berbagai macam bentuk dan desainnya. Bermalamnya mereka di masjid memang belum seideal mabit atau I’tikaf seperti yang dilakukan orang
tua atau kakek mereka. Tetapi paling tidak pengalaman
spiritual yang hadir melalui kebersamaan sejak ba’da Tarawih sampai Syuruq yang mereka isi dengan tilawah, sholat, dan bermain bersama teman sebaya (teman
sepermainan di rumah) sungguh sebuah bekal yang sangat bermakna untuk
masa depan mereka.
Pengalaman dan kebersamaan mahal itu mereka dapatkan dengan izin kedua orang tua dan kelapangan
dan kebesaran hati para pengurus DKM yang mengizinkan mereka hadir bersama jamaah I’tikaf yang sedang berburu lailatul qadar. Keberadaan mereka memang bukan tanpa
risiko: ketenangan dzikir, tilawah, atau sholat malam jamaah sedikit banyak
terganggu dengan obrolan, candaan, atau tingkah laku mereka yang kadang asyik
mabar atau nobar. Spontanitas mereka dalam peer group memang tidak
jarang menghadirkan tawa. Rasa senang karena bisa bermain bersama dengan waktu
yang sangat longgar itu memunculkan ekspresi yang beragam. Tentu, yang paham hanya mereka sebagai anggota speech community.
Lalu, apa peran para orang tua
dan pengurus DKM yang umumnya Gen-X? Sederhana. Perbesarlah kesabaran dan
kebesaran hati. Kita memang sedang menemani mereka tumbuh dalam kewajaran
zaman. Mereka sedang mencari bentuk melalui keteladanan
cara berpikir dan bersikap yang kita perlihatkan dan kita ajarkan kepada
mereka (See-Do-Get). Kesempatan bertemu mereka dalam ruang belajar ini sungguh sebuah amanah
yang besar.
Ketiga, qiyamul lail anak dan remaja. Salah satu wujud kebesaran
hati dan kelapangan dada para pengurus DKM adalah
dengan menyelenggarakan qiyamul lail khusus untuk mereka. Dengan diimami abang-abang mereka
sendiri yang sudah dan sedang mondok, mereka memacu diri untuk bangkit
lebih cepat dari tidur malam yang belum seberapa lama. Mereka lawan kantuk yang bercampur rasa malas demi menghormati kesempatan itu.
Inilah ruang ekspresi dan panggung amanah untuk Gen-Z
dan Alpha. Ramadhan benar-benar menghadirkan segala kesenangan untuk mengukir
kenangan indah masa kecil di rumah Allah tercinta. Tumbuh di antara perhatian
dan kasih sayang orang tua dan para tetangga yang sudah seperti orang tua sendiri sungguh
menyenangkan. Ketentraman dan kenyamanan untuk mengartikulasikan ciri khas generasi dan perasaan diterima sebagai “anak bungsu” sungguh menenangkan.
Mereka tidak takut untuk salah. Mereka bisa menggantikan aktivitas digital
mereka selama ini dengan beragam kegiatan ibadah di masjid. Alhamdulillah.
Gen-Z dan Alpha yang beruntung adalah yang punya kesempatan menghabiskan waktu terbaiknya selama Ramadhan bersama teman-teman sepermainan di masjid. Insya Allah ini menjadi pintu masuk yang baik sebagai salah satu bentuk kaderisasi dakwah. Faktanya, semua pengurus DKM terus beranjak tua dan tentu suatu hari harus Ikhlas menyerahkan estafet kepemimpinan dakwah itu kepada mereka.
Akhirnya, alangkah menariknya bila kesempatan untuk berinteraksi dan beraktivitas bersama peer group di masjid tidak terbatas pada Ramadhan, tetapi dengan program dan target yang lebih terencana dan terukur. Gen-Z dan Alpha membutuhkan agenda kaderisasi dakwah yang jelas dan tegas. Tidak lagi seremonial dan insidental. Momentum yang sangat inspiratif sesungguhnya bila berhubungan dengan sejumlah milestone perjuangan dakwah Rasulullah. DKM bisa membuatkan program yang menarik sesuai dengan spirit momentum tersebut. Bukankah pada saatnya nanti merekalah yang akan menjadi pilar-pilar dakwah yang harus tampil di depan dengan kokoh? Bukankah ini juga tanggung jawab dan amanah para Gen-X yang kini memegang amanah kepemimpinan Masjid?
Masya Allah laa quwwata illa billah. Barakallah…
Wallahu a’lam
bi al-shawab.
Depok, 19 Maret 2026/29 Ramadhan 1447 H
